Berita & Kegiatan

Pelepasliaran Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus) DI Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

 

Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus) merupakan salah satu raptor yang keberadaannya terancam akibat perburuan liar dan degradasi habitat. Elang Brontok menurut IUCN terdaftar pada status konservasi resiko rendah (Least concern), kategori Appendix II menurut CITES dan dilindungi oleh Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis dan Satwa. Elang Bontok tidak termasuk salah satu dari 25 satwa prioritas yang terancam punah, akan tetapi keberadaanya sebagai top predator di alam sangat penting sebagai pengatur rantai makanan sehingga keseimbangan ekosistem dapat terjaga. Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) secara rutin melaksanakan kegiatan pelepasliaran (rilis) elang terhadap satwa yang sudah melalui proses rehabilitasi.

Kamis, 4 Maret 2021 ini, bekerjasama dengan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Balai TNGHS melepasliarkan Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus) berjumlah 2 ekor. Elang Brontok tersebut merupakan satwa yang berhasil direhabilitasi di Pusat Suaka Satwa Elang Jawa (PSSEJ) yang dikelola Balai TNGHS. Elang Brontok bernama “Febi” yang berjenis kelamin betina merupakan serahan dari Bogor. Dan Elang Brontok yang bernama “Jack” yang berjenis kelamin jantan merupakan serahan dari Depok pada tanggal 07 Juni 2020. Jack siap dilepasliarkan setelah melewati masa rehabilitasi selama 8 bulan di PSSEJ. Berdasarkan hasil penilaian dari Dokter Hewan dan tim pengelola PSSEJ, saat ini satwa tersebut sudah layak rilis.

Kegiatan pelepasliaran dilaksanakan di Situ Gunung, Resort Pengelolaan Taman Nasional Wilayah (RPTNW) IV Situgunug, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah (SPTNW) III Sukabumi, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrngo

Penentuan lokasi dimaksud berdasarkan hasil penilaian habitat (habitat assesment) yang telah di lakukan oleh tim PSSEJ pada Tanggal 19-22 Februari 2021. Dari beberapa pilihan lokasi, area Danau Situ Gunung dinilai yeng paling cocok berdasarkan beberapa kriteria. Kondisi habitat, tutupan sarang, aksesibilitas, potensi keberadaan pakan menjadi beberapa hal yang menjadi indikator penilaian.

Kami berharap program seperti ini dapat terus dilaksanakan. Dukungan para pihak, baik sektor pemerintah, swasta, LSM, akademisi, dan masyarakat merupakan modal utama untuk kelestarian hutan dan keragaman hayati di Kawasan TNGHS dan TNGGP.

Artikel Lain Yang Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.