The Harmony of Nature and Culture in The Largest Tropical Rainforest at Java Island

Halo #SobatHalisa, semoga kalian selalu sehat dan tetap semangat untuk terus mematuhi anjuran pemerintah dalam mencegah penyebaran Covid 19 lebih luas lagi.

Tanahalisa sekarang mempunyai logo dan branding wisata baru yaitu The Harmony of Nature and Culture in The Largest Tropical Rainforest at Java Island.

Logo berbentuk persegi empat yang di dalamnya terdapat unsur gunung, leuit, bulir air, lekukan berwarna oranye, tulisan TNGHS dengan latar warna hitam ini sarat akan makna.

Tulisan TNGHS menunjukkan identitas sebagai institusi Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Warna gradasi hijau dan oranye bermakna keharmonisan alam dan budaya sesuai dengan tagline The Harmony of Nature and Culture in The Largest Tropical Rainforest at Java Island

Gunung merupakan identitas tanahalisa, mencirikan luasnya hutan hujan tropis dengan 4 puncak gunung yaitu Gn Salak I, Gn Salak II, Gn Halimun Utara dan Gn Halimun Selatan. Warna hjau merupakan representasi warna alam, harmoni (keseimbangan, keselarasan), kesuburan, kesegaran, kedamaian hingga efek relaksasi bagi seseorang yang berkunjung ke kawasan ini.

Leuit, bangunan khas masyarakat Sunda, berfungsi sebagai lumbung padi. Secara sosial, bermakna sebagai tempat cadangan pangan yang akan digunakan bila ada keperluan sangat mendesak. Secara ekologi, bermakna sebagai benteng konservasi untuk melestarikan sumber daya alam. Warna oranye memiliki arti budaya masyarakat yang hangat dan ramah.

Bulir air menunjukkan salah satu kekuatan tanahalisa sebagai daerah tangkapan air (catchment area) yang menjadi hulu dari 5 daerah aliran sungai (DAS) yaitu DAS Cisadane, DAS Cidurian, DAS Ciujung, DAS CImandiri dan DAS Bayah. Dari sinilah sumber setidaknya 113 sungai yang mengalir menuju Kabupaten Bogor, Sukabumi dan Lebak Banten. Warna biru bermakna bahwa di tanahalisa terdapat kedamaian, kesemestaan, keteguhan dan kepercayaan dalam memberikan pelayanan kepada pengunjung wisata.

Lekukan berwarna oranye bersama satu kesatuan dengan leuit merupakan simbol budaya sebagai penopang kelestarian tanahalisa. Warna oranye, selain hangat dan ramah, juga memiliki makna kuat dan berkesan menarik perhatian orang.

Latar hitam menunjukkan bahwa terdapat kekuatan dan keseriusan dalam mengelolan sumber daya alam termasuk lokasi-lokasi wisata, serta menunjukkan sifat elegan dan netral dalam memberikan pelayanan terhadap pengunjung tanahalisa.

Bentuk logo persegi empat sesuai dengan prinsip dasar pengelolaan objek wisata. Tanahalisa memiliki empat komponen sebagai prinsip dasar yaitu: atraksi (attraction) berupa keindahan alam, budaya dan seni; aksesibilitas (accesibility) berupa ketersediaan sarana prasarana transportasi yang dapat diakses kendaraan roda dua maupun roda empat pada hampir seluruh lokasi wisata tanahalisa; amenitas/fasilitas (amenities) berupa ketersediaan akomodasi dan rumah makan/warung makan; dan layanan tambahan (ancillary services) berupa ketersediaan organisasi kepariwisataan yaitu dengan adanya 12 institusi yang telah mendapatkan ijin jasa wisata alam di tanahalisa.

Semoga bisa menambah semangat pengembangan wisata di Halimun Salak kedepannya.

Tinggalkan Balasan