• Depan
  • › Keanekaragaman Hayati

Keanekaragaman Hayati

FLORA

Dipterocarpus hasseltii Lebih dari 700 jenis tumbuhan berbunga hidup di hutan alam di dalam TNGHS, yang meliputi 391 marga dari 119 suku. Tipe hutan alam di kawasan TNGHS dibagi menjadi hutan hujan dataran rendah (100-1000 m dpal) yang didominasi oleh Zona  Collin (500-1000 m dpal.), hutan hujan pegunungan bawah atau sub montana (ketinggian 1000–1.500 dpal.) dan hutan hujan pegunungan tengah atau hutan montana (ketinggian 1.500 – 1.929 m dpal). 

 Pada ketinggian 500-1.000 m dpal ditemukan beberapa spesies dari anggota Suku Dipterocarpaceae yang merupakan ciri hujan hujan dataran rendah dapat ditemukan di kawasan Gunung Halimun, yaitu: Dipterocarpus trinervis, D. Gracilis dan D. Hasseltii. Selain itu  pada ketinggian tersebut dapat dijumpai spesies-spesies: rasamala (Altingia excelsa), puspa (Schima wallichii), saninten (Castanopsis javanica), kiriung anak (C. acuminatissima), pasang (Quercus gemelliflora). 

 Pada ketinggian 1,000 – 1,500 m dpal dapat dijumpai spesies-spesies seperti Acer Iaurinum, ganitri (Elaeocarpus ganitrus), Eurya acuminatissima, Antidesma bunius, Ficus spp, kayu putih (Cinnamomum sp.), kileho (Saurauia pendula), dan kimerak (Weinmannia blumei). Pada ketinggian ini dapat dijumpai pohon-pohon yang memiliki tinggi hingga 40 m dengan diameter 120 cm, sedangkan pada ketinggian yang lebih rendah, akan dijumpai pohon-pohon yang lebih tinggi lagi. Pada ketinggian di atas 1,500 m dpal didominasi oleh jamuju (Dacrycarpus imbricartus), kibima (Podocarpus blumei), dan kiputri (Podocarpus neriifolius). Spesies menarik lainnya adalah hamirung (Vernonia arborea) yang merupakan satu-satunya anggota suku Asteraceae yang berbentuk pohon. Kilemo (Litsea cubeba), yang lebih banyak dijumpai di Gunung Botol; Jenis Schefflera rigida dan kiramo giling (Trevesia sundaica) lebih banyak dijumpai pada tempat yang agak terbuka, maupun tepi jalan. Sedangkan khusus di area sekitar Kawah Ratu, puncak Gunung Salak (2.211 m.dpal) juga terdapat jenis-jenis tumbuhan kawah dan hutan lumut. 

 Jika ditinjau dari sebaran jenis vegetasi TNGHS memiliki beberapa tipe ekosistem, yaitu: tipe homogen yang terdiri dari tanaman teh terdapat di dalam enclave di dalam kawasan. Enclave terbesar yaitu Perkebunan Teh Nirmala dan Cianten. Tipe heterogen terdiri dari perwakilan hutan hujan tropis sekitar 80% relatif masih utuh. Dua puluh persen (20%) lainnya sudah terbuka oleh perambahan. Dari tipe heterogen tersebut kemudian dapat dilihat menurut strata tumbuhan, terdiri dari pohon, perdu, herba, liana, efipit, palem, pandan dan pisang-pisangan. Selain teh, dapat dijumpai pula jenis-jenis tumbuhan lain yang cukup dominan, misalnya; pinus (Pinus merkusii), kidamar (Agathis damara), kaliandra (Calliandra callothyrsus dan C. tetragoma). Semula jenis-jenis tersebut sengaja ditanam oleh Perum Perhutani untuk penghijauan lahan, namun kini sudah menjadi tumbuhan introduksi bagi perkebunan teh. Selain itu dengan mudah dijumpai semak-semak ketinggian 2 m yang didominasi oleh harendong (Melastoma malabathrycum), kirinyuh (Eupatorium inulifolium), cente (Lantana camara), jotang (Bidens pilosa), pegagan (Centela asiatica) dan kejibeling (Strobilantes crispus).

Di dalam TNGHS tercatat 13 spesies rotan dan 12 spesies bambu, antara lain: bambu cangkore (Dinochloa scandens) dan bambu tamiang (Schyzostachyum sp.) yang merupakan tumbuhan asli Jawa Barat. Di daerah perluasan ditemukan hutan tanaman, terutama di areal yang dulunya berstatus sebagai hutan produksi dan hutan lindung yang dikelola Perum Perhutani, antara lain: hutan tanaman rasamala (Altingia excelsa), pinus (Pinus merkusii), damar (Agathis sp.) dan puspa (Schima wallichii). 

Hasil inventarisasi dan koleksi anggrek di TNGHS, sampai saat ini tercatat sebanyak 258 spesies yang teregolong dalam 74 marga. Empat puluh tujuh spesies di antaranya tercatat sebagai spesies endemik Pulau Jawa dan 5 jenis merupakan catatan baru untuk Pulau Jawa. Jumlah tersebut merupakan satu per tiga bagian dari anggrek-anggrekan di Pulau Jawa yang tercatat sebanyak 731 speises (Mahyar dan Sadili, 2003).

Di TNGHS juga dapat dijumpai berbagai jenis jamur yang menarik. Dalam kelembaban hutan TNGHS, umumnya jamur dapat dilihat setiap waktu sepanjang tahun khususnya selama musim hujan antara bulan September hingga Mei. Terdapat beberapa tipe jamur yang tidak umum, salah satunya adalah fenomena jamur bercahaya yang terdapat di sekitar Cikaniki dan hanya pada waktu-waktu tertentu.

FAUNA

 Kupu-kupuDi dalam kawasan TNGHS terdapat berbagai tipe ekosistem yang terdapat di dalamnya merupakan habitat dari berbagai jenis fauna langka dan dilindungi.  Berdasarkan sejarahnya, kawasan ini pernah merupakan habitat badak jawa (Rhinoceros sondaicus), harimau jawa (Panthera tigris sondaicus). Untuk mamalia terdapat 61 spesies, beberapa spesies yang endemik Pulau Jawa dan spesies terancam punah (endangered). Spesies-spesies terancam punah yang masih dapat dijumpai di antaranya macan tutul jawa (Panthera pardus melas), kucing hutan (Prionailurus bengalensis), owa jawa (Hylobates moloch), surili (Presbytis comata), lutung (Trachypithecus auratus), ajag atau anjing hutan (Cuon alpinus javanicus), sigung (Mydaus javanensis) dan kukang (Nycticebus coucang). 

 Ada sebanyak 244 spesies burung atau setara dengan 50 % dari jumlah jenis burung yang hidup di Jawa dan Bali. Sekitar 32 jenis diantaranya adalah endemik di Jawa dengan sebaran terbatas/langka dan terdapat 23 spesies burung migran (Prawiradilaga, dkk, 2002). Kawasan ini juga telah ditetapkan oleh BirdLife, organisasi internasional pelestari burung, sebagai daerah burung penting (IBA, Important Bird Areas) dengan nomor ID075 (Gunung Salak) dan ID076 (Gunung Halimun). Wilayah-wilayah ini terutama penting untuk menyelamatkan jenis-jenis elang jawa (Spizaetus bartelsi), luntur jawa (Apalharpactes reinwardtii), ciung-mungkal jawa (Cochoa azurea), celepuk jawa (Otus angelinae), dan gelatik jawa (Padda oryzivora) (BirdLife International, 2009).

Kawasan TNGHS dapat ditemukan keberadaan sekitar 27 spesies amfibi, 50 spesies reptilia, 26 spesies capung (Sidik, I. 1998, Kurniati, 2003). Tercatat pula 31 spesies ikan yang sebagian besar (37,5%) tergolong ikan-ikan gobiid dan eleotriad, seperti spesies-spesies ikan komplementer air tawar, jenis-jenis tersebut antara lain paray (Rasbora aprotaenia), beunter (Puntius binotus), bogo (Channa gachua), belut (Monopterus album), kehkel (Glyptothorax platypogon), bungkreng (Poeciba reticulata) dan Sicyopterus cf microcephalus.

Terdapat tiga spesies Penciri (Flagship Species) TNGHS yaitu Owa Jawa (Hylobates moloch), Macan Tutul (Panthera pardus melas) dan Elang Jawa (Nisaetus barthelsi).