• Depan
  • › Tema Penelitian

Tema Penelitian

Kegiatan dan Wisata Penelitian

1. Burung

Di dalam kawasan TNGHS tercatat 244 jenis burung, bebarapa di antaranya yang sangat menarik untuk dijumpai di alam adalah jenis Luntur Gunung, Cica Matahari, Kipasan Ekor Merah, jenis-jenis rangkong, jenis-jenis srigunting dan lain-lain.

Lokasi yang paling ideal untuk melaksanakan kegiatan ini adalah  di wilayah  Cikaniki dan sekitarnya.

2. Burung Pemangsa

Burung-burung pemangsa merupakan kelompok lain yang sangat menarik untuk diamati di alam. Kepakan sayap yang lebar serta suara yang khas memberikan keindahan tersendiri bagi pengamat dan penyuka jenis burung ini. Di TNGHS, tercatat terdapat 16 (enam belas) jenis burung dari kelompok burung pemangsa (raptor). Di antara jenis yang sangat  menarik untuk di amati adalah jenis burung Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), sedangkan burung elang lain yang mudah  dikunjungi di lokasi Cikaniki-Citalahab adalah Elang Hitam (Ictinaetus malayensis), Elang Ular (Spilornis cheela) serta Elang Brontok (Spizaetus cirrhatus).

Lokasi ideal untuk pengamatan telah kami identifikasi sehingga akan membantu memudahkan dalam pengamatan selama kegiatan berlangsung. Cikaniki, Wates, Loji, dan Koridor Halimun Salak menjadi lokasi yang paling tepat untuk kegiatan ini.

3. Primata

Primata merupakan hewan yang sangat menarik untuk dijumpai di alam secara langsung. Kawasan TNGHS memiliki 5 (lima) jenis primata yaitu : Monyet Ekor panjang (Macaca fascicularis), Surili (Presbytis comata), Lutung Jawa (Trachypitecus auratus), Kukang (Nycticebus coucang) dan Owa Jawa (Hylobates moloch).

Owa Jawa merupakan hewan endemik Pulau Jawa. Hewan unik dengan suara yang khas serta pola bergerak dengan bergelayut dari pohon ke pohon ini sangat menarik dijumpai di alam secara langsung. Owa Jawa hidup berkelompok kecil dalam satu keluarga yang biasanya hanya terdiri dua dewasa dan 2-3 anak.

Jenis lain yang menarik adalah Surili. Sebagian peneliti meyakini bahwa jenis ini adalah endemik Jawa Barat. Warna rambut abu-abu dengan perpaduan warna putih di bagian dada serta berjambul, menjadikan ciri khas yang dimilikinya. Hidupnya berkelompok di mana dalam satu kelompok mencapai belasan ekor.

Sementara Lutung Jawa, ini merupakan monyet hitam yang ada di Jawa. Pada saat masih kecil dari bayi sampai pra remaja rambutnya berwarna orange, hidup berkelompok,  hingga mencapai belasan ekor.

Lokasi ideal untuk melakukan kegiatan pegamatan/penelitian primata adalah Cikaniki, jalur Ciptagelar-Ciptarasa, Koridor Halimun Salak.

4. Mamalia

Penelitian  ini akan memerlukan tenaga atau stamina yang kuat karena harus menjelajahi jalur-jalur jelajah Macan Tutul yang sebagian jalurnya melintasi Gunung Andam, Gunung Kendeng dan juga bisa ke Gunung Kempul untuk di daerah Cikaniki-Citalahab, sedangkan untuk di daerah Lebak melintasi jalur Gunung Endut.

Kegiatan pengamatan/penelitian meliputi pengamatan tanda-tanda keberadaan hewan mamalia baik langsung maupun tidak langsung, seperti mengenal jejak, marking (penandaan teritori hewan), dan kotoran, ataupun mengenal melalui perjumpaan langsung, terutama mamlia kecil seperti tupai terbang kecil, Tupai terbang Besar, Musang dan lain-lain.

Kegiatan lain yang sangat menarik adalah pengenalan metoda penelitian dengan kamera jebak (Camera Trap)

Kegiatan ini dilakukan di jalur-jalur yang sudah teridentifikasi baik untuk penelitian macan tutul, sehingga memungkinan mendapatkan hasil rekam/foto macan yang baik seperti di Gunung Luhur, Koridor Halimun Salak, dan Cikaniki.

5. Tumbuhan/Flora

Kawasan hutan hujan tropis merupakan surga bagi berbagai jenis tumbuhan. Di TNGHS tercatat lebih dari 1000 jenis tumbuhan besar, 258 jenis anggrek, lebih dari 150 jenis lumut, 9 jenis rotan,  paku-pakuan dan lain-lain (BCP-JICA, 2003). Kekayaan keanekaragaman hayati ini menjadi salah satu tujuan wisata yang sangat menarik, terutama untuk memberikan pendidikan pada putra-putri kita dalam pengenalan dan pengalaman tentang pentingnya hutan bagi kehidupan manusia.

Kegiatan penelitian ini dapat dilakukan hampir di seluruh kawasan TNGHS.

6. Jamur Menyala

Perjalanan menarik lain yang dapat dinikmati dalam berwisata di TNGHS yaitu mengikuti perjalanan malam untuk melihat uniknya jamur menyala/jamur fosfor. Jamur ini menyala karena adanya enzim latiferiza dan bio fosfor di mana setelah bereaksi akan mengeluarkan cahaya putih kebru-biruan. Ukurannya sangat kecil sebesar ujung lidi sampai ukuran maksimal 3 – 4 mm. Namun demikian karena tumbuh berkelompok banyak pada satu ranting,  maka tampak terlihat laksana  kota kecil di malam hari. Selain itu juga dapat mengamati kehidupan malam lainnya  sebagai kegiatan safari malam di kawasan hutan  TNGHS.

7. Sosial Budaya

Kehidupan unik masyarakat tradisionial  di kawasan TNGHS dapat dijumpai pada masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar. Anda dapat mengenal  keseharian mereka di sini. Upacara adat dapat dijumpai dalam kegiatan Seren Taun yang dilaksanakan satu tahun sekali . Seren Taun merupakan suatu kegiatan upacara adat yang dilakukan untuk mensyukuri hasil panen tahun lalu dan menyambut tahun yang akan datang. Selain itu Anda dapat mengenal lebih dekat dengan seni tradisional yang mereka miliki seperti seni debus dengan kekuatan mejik, dog-dog lojor, wayang golek, tari topeng jaipong dan lain-lain.

Selain Ciptagelar, lokasi yang dapat dijadikan sebagai lokasi kegiatan adalah Kampung Sukagalih. Kampung Sukagalih merupakan masyarakat kampung non adat yang memegang teguh budaya menjaga hutan. Kampung ini pula merupakan salah satu kampung yang menjadi model bagi pengelolaan TNGHS bersama masyarakat.