Lagi, Kami Bertemu dengan Kodok Merah

Kodok Merah (Leptophryne cruentata )

“Hujan udah reda, nih. Berangkat kita?” ucap Yopi disela keheningan tenda.

“Ayo deh, nasi liwet ludes, saatnya kita membakar kalori” timpal Alif sambil menghembuskan asap rokok terakhirnya.

Obrolan kami di dalam tenda sesaat sebelum melakukan pengamatan malam. Pengamatan untuk bisa ditemui lagi oleh “Sang Kodok Berdarah”. Ini bukan salah tulis. Karena sejatinya bukan kami yang menemukan mereka di alam liar, tetapi merekalah yang bersedia menemui kami di habitat alaminya, rumahnya.

Setelah perjumpaan Kodok Merah beberapa waktu lalu di sisi timur Gunung Salak, ponsel saya bergetar. Pesan WA dari Yopi, kader konservasi TanaHalisa masuk. Dia mengabarkan sebuah lokasi yang karakteristiknya cocok sebagai habitat sang kodok. Tanpa pikir panjang, saya dan beberapa teman merencanakan herping ke salah satu sudut kaki Gunung Salak.

Herping dimaknai sebagai kegiatan pengamatan satwa jenis herpetofauna yaitu reptil dan amfibi. Biasanya dilaksanakan pagi hingga siang, namun lebih sering di malam hari mengingat satwa-satwa ini umumnya aktif pada malam hari. Lantai hutan, semak belukar, serta sumber-sumber air menjadi sasaran lokasi herping. Di sana lah tempat hidup yang mereka sukai. Kali ini kami menyusuri hulu sungai di belantara Gunung Salak.

Suasana camp tempat istirahat kami

Kembali ke cerita tadi, setidaknya butuh waktu hingga tiga jam berjalan kaki untuk sampai camp, tempat kami bermalam tiga hari ke depan. Waktu menunjukkan pukul dua belas siang saat kami tiba di titik camp. Setelah beristirahat dan membangun tenda, kami melakukan orientasi medan untuk mempersiapkan jalur pengamatan malam hari nanti.

Jelang sore hari, Ihsan, salah satu anggota tim mulai memasak untuk santapan malam. Kami pun membantu sambil bercengkrama ditemani secangkir kopi hangat. Kopi ternikmat yang saya cicipi setelah beberapa bulan terakhir di rumah saja karena pandemi covid-19. Kopi hitam yang diseduh dengan air mendidih, diseruput di tengah rimba dengan semilir udara yang menusuk tulang. Terbayang kan?

Nasi liwet, tumis pakis yang kami temukan di perjalanan, labu siam yang juga kami petik dari kebun warga atas ijinnya, ikan asin, dan tidak ketinggalan sambel ulek adalah santapan kami malam itu. Semuanya telah terhidang di atas daun pisang. Dalam sekejap semuanya ludes sudah. Setelah mengisi bahan bakar ke dalam perut dan mengembalikan energi yang hilang karena perjalanan tadi siang, sekarang saatnya mulai bertualang.

Pukul delapan malam setelah hujan benar-benar reda, pengamatan pun dimulai. Sepatu boot, baju tangan panjang, head lamp, dan tongkat ular/snake hook menjadi peralatan tempur standar yang wajib dikenakan.

Jarak antara camp dengan sungai yang akan kami susuri tidak kurang dari lima ratus meter. Jalur yang kami lalui cukup menantang. Kami menuruni lereng yang sangat curam dalam kegelapan. Tak jarang kami hanya menemui tonjolan batu kecil sebagai pijakan. Pohon dan akar di sepanjang jalur menjadi pegangan utama kami. Kami berharap bukan rotan atau atau pohon berduri yang kami pegang. Tanah yang licin semakin membuat seru dan sempurna perjalanan ini.

Terpeleset? Tentu saja tidak mungkin dihindari. Bergantian kami mengalaminya. Ketika salah satu tersandung atau terpeleset, derai tawa langsung terdengar bagai paduan suara. Tentu saja sambil menolong satu sama lain. Tapi percayalah, itu ungkapan keprihatinan kami untuk sekedar menghilangkan ketegangan yang dirasakan.

Lima puluh meter pertama, kami berhasil mendokumentasikan Megophrys montana. Seekor katak serasah yang memiliki ciri khas berupa payung menyerupai tanduk di atas kedua matanya. Spesies ini dikenal dengan sebutan katak tanduk. Tak lama kemudian, kami melihat seekor Gonochepalus kuhlii, seekor kadal hutan yang tertidur pada sebuah akar gantung.

Akhirnya kami berhasil mencapai sungai yang akan disusuri. Rintik hujan sempat sesaat menyambut kami. Jas hujan menjadi alat penolong sehingga pengamatan bisa terus kami lakukan.

Spesies amfibi lain berhasil kami dokumentasikan. Namun, tidak satupun indikasi keberadaan salah satu katak endemik Jawa ini kami temui. Tebing dengan tinggi hingga dua meter dan dialiri air harus kami panjat. Teknik berjalan diterapkan lebih berhati-hati, tempat berpijak harus dipilih dengan bijak, karena banyaknya batu berlumut yang tidak bersahabat dengan sol sepatu kami.

Sejauh empat ratus meter sungai ini kami susuri, hingga kami memutuskan untuk menghentikan perjalanan. Air terjun setinggi dua puluh lima meter menyambut kami bak ingin memeluk. Karena menyadari bahwa ini titik akhir perjalanan, maka kami melakukan eksplorasi lebih mendalam.

Tidak sampai sepuluh menit, Alif, dengan indera pendengaran tajamnya berhasil menangkap suara ‘bleeding toad’, istilah Bahasa Inggris untuk kodok yang kami cari. Kami berjalan mendekati sumber suara. Satu setengah meter dari dasar terjunan air, Sang Kodok pun akhirnya menemui kami. Sepertinya sedari tadi, dia menanti kunjungan kami.

Yopi sedang mendokumentasikan Kodok Merah

Kuarahkan ponsel dengan tambahan lensa macro pada Leptophryne cruentata, nama ilmiah Sang Kodok. Yopi dengan kamera DSLR dan Alif dengan ponselnya bergantian mengabadikan ‘Sang Kodok’. Kamipun berbagi tugas menyorotkan lampu senter untuk membantu pencahayaan.

“Yeayyyy”, teriakku.

Kamipun berteriak, saling menepuk pundak, tanda bahagia karena berhasil mendokumentasikannya. Betul kata senior kami, usaha tidak akan mengkhianati hasil.  Petuah yang kami genggam selama petualangan ini. Malam ini kami berhasil menambah catatan lokasi perjumpaan satu-satunya jenis amfibi yang dilindungi pemerintah di kawasan TanaHalisa.

Pengamatan ini kami ulangi pada malam selanjutnya. Kami dapat mendokumentasikan lebih dari satu ekor Kodok Merah pada setiap perjumpaan. Tercatat sebelas jenis amfibi dan reptil yang kamu temui dalam perjalanan kali ini. Ini cukup memuaskan bagi kami.

Tak henti-henti, kami berceloteh tentang petualangan dua hari ini dalam perjalanan pulang. Esok lusa kami akan bertualang di tempat lain, yang pastinya tidak kalah seru. Hanya untuk bisa mensyukuri ciptaan-Nya dan mengabarkan bahwa Indonesia itu indah, kawan.

Foto : Giri Satria, Haegel Alif