• Depan
  • › Kategori: Artikel
  • › Enforcement Ranger Training Course

Enforcement Ranger Training Course

Upaya peningkatan kapasitas Polhut Indonesia oleh Direktorat PPH Kementerian Kehutanan RI dan Freeland Foundation.

Oleh

Ismirza

Salah satu upaya Kementerian Kehutanan direktorat Perlindungan dan Penyidikan H bekerjasama dengan Freeland Foundation untuk meningkatkan kapasitas Ranger (polhut) khususnya para anggota SPORC dalam rangka melaksanakan tugas-tugasnya, dilaksanakan untuk ketiga kalinya di Singkawang Kalimantan Barat selama 12 hari dari tanggal 10-24 September 2013. Pelatihan ini pertama kali dilakukan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Jawa Barat, lalu yang kedua dilakukan di Sibolangit Sumatera Utara.

Kegiatan ini diikuti oleh total 40 orang peserta yang terdiri dari 30 orang anggota Sporc Brigade Bekantan, 5 orang anggota Sporc dari Brigade Elang, dan 5 orang ranger dari Serawak Malaysia. Instruktur kegiatan ini berasal dari Freeland Foundation yaitu Mr. Steve King (chief instructor), Mr. Ian Brady (consultant instructor) , dan Mr. Tim Redford (training coordinator) dibantu 5 orang asisten instruktur yang berasal dari anggota Sporc yang sebelumnya sudah mendapat pelatihan angkatan I dan II.

Yang berkesan dan agak mengejutkan dalam pelatihan ini adalah bahwa pelajaran First Aid atau yang kita kenal dengan P3K menjadi pelajaran wajib dan harus lulus untuk bisa mengikuti pelajaran selanjutnya. Selama ini penulis mengalami bahwa justru pelajaran ini sering jadi pelajaran sampingan dibanding pelajaran lain dalam pelatihan kepolhutan. Setelah peserta dinyatakan lulus dalam pelajaran ini baik teori maupun praktek, maka pelajaran lain baru diberikan dan dimulai dengan pelajaran navigasi ala militer yang juga tenyata belum pernah diberikan.

 

Praktek CPR

Praktek CPR

Dalam kegiatan sehari-hari navigasi merupakan hal yang digeluti dalam pekerjaan sebagai Polhut, namun dalam pelatihan ini kami diajak untuk kembali ke basic/dasar navigasi dengan menggunakan peta dan kompas. Mengukur jarakpun yang sebelumnya biasa dilakukan dengan hanya menggunakan alat Global Positioning System (GPS) dilakukan menggunakan penghitungan langkah kaki. Dalam pelajaran ini kami dijelaskan mengapa harus melakukan ini, mengapa kami harus menggunakan peta dengan kordinat Universal Transfers Mercator (UTM), menggunakan kompas bukan GPS, dan menggunakan penghitungan langkah kaki (Pacing).

 

Membaca peta
Membaca peta

 

Satu hal yang cukup berkesan adalah hampir semua materi diberikan di lapangan tidak di dalam kelas sehingga saya pribadi merasa tetap sebagai rimbawan yang akrab dengan tanah, air, daun, dan bunyi-bunyian yang biasa saya dengar di tempat tugas. Banyaknya praktek dibanding teori juga membuat saya lebih semangat dan mudah mengerti dibanding dengan “pindah tidur” di kelas, walaupun materi diberikan dalam bahasa Inggris, meski diterjemahkan juga oleh penterjemah.

Pelajaran-pelajaran selanjutnya bagi saya semakin menarik karena banyak penekanan-penekanan yang dulu tidak dilakukan dalam pelatihan baik pembentukan Polhut maupun Sporc seperti pentingnya tim dan kesatuan tim, pembagian tugas dalam tim, dan dril-dril dalam melakukan tugas seperti perjumpaan, penyergapan, pelumpuhan, penanganan tersangka, kontak senjata, hingga tindakan pertama dalam tempat kejadian perkara.

 Kami pun dilatih untuk merasakan bagaimana menunggu di dalam hutan untuk melakukan penyergapan dengan target yang sudah diberikan seperti tentara, membuat basecamp untuk menginap di hutan namun tetap dalam formasi untuk melakukan tugas berikutnya. Di dalam hutan itulah saya merasakan pentingnya kerjasama tim dan keyakinan terhadap tim untuk dapat melaksanakan fungsinya masing-masing guna menunjang keberhasilan tugas. (oh ya selama pelatihan ini kami selalu bergerak dalam tim yang berjumlah 5 orang).

Kegiatan pelatihan ini diakhiri dengan menguji semua materi yang telah diberikan dalam bentuk pos-pos yang harus kami lalui. Salah satu pos yang sangat berkesan adalah pos pelajaran P3K yang diakhiri dengan membuat tandu dan mengangkut korban ke pos selanjutnya. Kami memperkirakan pos berikutnya tidak terlau jauh, ternyata..? Jarak pos berikutnya sekitar 500 meter jalan menanjak dengan cuaca panas sekitar pukul 13.00…wah… namun dengan kerjasama tim kami sampai juga ke pos berikutnya.

Kegiatan ini memiliki kesan yang sangat mendalam bagi saya dan saya yakin juga bagi teman-teman lain karena materi yang baru dan menarik, juga kami bisa berinteraksi dengan teman-teman dari serawak yang akhirnya berkata “Tadinya kami takut rekan-rekan dari Indonesia akan bersikap buruk terhadap kami, ternyata bisa menerima kami sebagai teman dengan sangat cepat dan terbuka”.

Akhirnya saya berharap pelatihan semacam ini dapat dirasakan juga oleh rekan-rekan Sporc dan Polhut yang lainnya.